Alarm berdentang begitu keras, menunjukkan bahwa matahari telah menunjukkan senyumnya di pagi hari. Aku terbangun dan terburu untuk menuju kantor yang bisa dikatakan cukup jauh dari rumahku. Namaku Rendra, aku hanya pegawai kantoran biasa yang tidak pernah neko-neko dan bekerja dengan giat setiap harinya.

Tepat tanggal 18 September dua tahun lalu, aku melihat pegawai yang begitu cantik dan selalu tersenyum dengan manis. Bila dikata sabagai pecundang, mungkin itu memang cocok disematkan padaku, karena aku memang sadar diri dengan keadaanku yang bisa dikatakan selalu berantakan.

Pagi ini, aku dikejutkan karena Astika si cantik pujaan hatiku itu tiba-tiba datang ke divisiku dan mencari tempat duduk untuk dirinya. Awalnya aku diam saja dan sepertinya dia membutuhkan bantuan untuk menata perabotnya.

“Permisi, a..a..apa ada yang bisa dibantu?”

“Eh… iya mas, berantakan sekali tempat baruku,” jawabnya.

“Boleh saya bantu,”

“Boleh kok, terima kasih ya mas,”

Aku pun membantunya membersihkan dan membereskan meja kerjanya yang seperti kapal pecah itu. Tak lama setelah kami berdua membereskan meja kerja, tiba-tiba kekasihnya yang anak pemilik perusahaan itu datanng menghampirinya dan mencium keningnya.

Melihat hal itu membuatku cemburu, namun aku hanya diam karena memang aku bukanlah porsinya. Kembali ku ke meja kerjaku, dan berusaha memalingkan pandangan agar tidak melihat mereka berdua.

“Bro, apa sudah selesai perkejaan untuk besok pagi?” ucap Aldo rekan sekantorku.

“Oh iya, setelah ini, ini sudah finishing kok, 5 menit ya,”

“Ok, nanti email ke emailku aja, aku keluar dulu soalnya,”

“Siap ndan,”

Kembali ku dirumitkan oleh masalah desain proposal yang membuatku harus tinggal lebih lama di kantor. Setelah ku selesaikan kerjaan terakhirku dan berjalan ke parkiran, sial menghampiriku karena melihat Astika baru saja diantar kekasihnya itu mengambil mobil. Aku hanya bisa diam dan mengambil motorku di parkiran khusus motor.

Semua hal yang membuat otakku rumit selalu berputar di pikiranku setiap hari dan aku hanya bisa menahan dan diam saja, karena memang aku hanya pengagum rahasianya saja. Hari-hari kulewati begitu saja selama 4 bulan, hari liburan bersama teman kantor pun tiba dan kami semua pergi ke Bali bersama-sama.

Aku berjalan sendirian di pantai itu tanpa ada yang menemani, karena mereka semua memiliki pasangan masing-masing di perusahaan. Saat menjelang malam aku masih menikmati jalan-jalanku yang sendirian itu dan bertemu dengan Astika yang duduk di pinggiran pantai.

Kudatangi dia, dan kusapa dia dengan semangat, namun apa yang kulihat itu sungguh mengejutkanku. Dia menangis dengan air mata yang terus menetes di pipinya.

“Astika baik-baik saja, kok nangis?”

“Iya aku baik-baik saja,” sambil mengusap air matanya sendiri.

“Aku boleh duduk disini?”

“Iya duduk aja,”

“Yang lain seneng-seneng kok kamu malah nangis disini,” kucoba untuk menyemangatinya.

“Hahaha, susah untuk bersenang-senang dengan situasi seperti ini,” ucapnya yang kembali mengeluarkan air mata.

“Sudah jangan menangis, solusi untuk menghilangkan kesal di dada itu ya cerita atau berteriak sekencang-kencangnya,”

“Gak mau, kalau teriak-teriak nanti aku dikira orang gila,”

“Ya sudah, cerita saja apa masalahmu, meskipun nanti aku tidak bisa memberikan solusi, setidaknya sesak yang mengganggu di dadamu bisa sedikit plong,”

“Tapi kita kan gak akrab walau di kantor,”

“Ya karena kita gak akrab, kamu bisa bebas cerita sepuasnya dan biar aku yang membuang semua penatmu ke laut hehehe,”

“Kamu bisa aja, hehehe,”

“Nah gitu dong senyum, kan cantik,”

Setelah itu dia bercerita kalau kekasihnya itu ternyata sudah punya tunangan, dan tunangannya itu adalah salah satu rekan bisnisnya di Australia. Ia sangat sedih saat mendengarkan langsung percakapannya kekasihnya dan juga kedua orangtua kekasihnya. Semakin mendalam, tangisnya semakin menjadi-jadi dan aku tidak bisa memberinya solusi.

“Tika, udah jangan nangis lagi, hal itu mungkin memang menyebalkan tapi kita ini lagi liburan loo,”

“Yang lain mah enak besok sudah pulang, sedangkan aku sudah terlanjur pesan hotel lebih lama dari yang lain, karena Tio menjanjikanku untuk dikenalkan keluarganya setelah yang lain pulang,”

“Ya sudah, aku akan nambah hari untuk jadwal inapku, ayo kita besok sampai kita pulang nanti kita bersenang-senang,”

“Eh gak usah, aku gakpapa kok,”

“Hehehe kan aku yang pengen sendiri, aku juga ngerasa kurang liburan kok Cuma 3 hari,”

“Oke, kalau gitu besok kita start jam 7 pagi ya,”

“Oke, yuk kita kembali ke hotel,”