Tunjukkan padaku bahwa kau mencintaiku. Tunjukkan padaku keberanianmu. Biarkan aku menari diantara tetesan hujan yang ‘kan membawaku bersamamu. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama. Katakan padaku tiga kata ajaib itu yang ‘kan membawaku hidup bahagia bersamamu… Anna…

Hari yang indah di suatu tempat yang sejuk, dia mengalihkan pandangan semua orang. Usianya sekitar 7 tahun. Wajah yang begitu lucu dengan gigi depan yang kecoklatan seakan makin menambah kepolosannya. Dia Anna, anak dari keluarga sederhana yang cukup dihormati di kampung itu.

“Lika, yok kita main sepeda!” ujar Anna yang bersuara cempreng.

“OK. Yok kita ajak si Tio juga.” sambung Lika.

“Tio… Tio… maen yok.”

“Tunggu dulu, aku ngambil sepeda dulu ya”, sambung anak laki-laki berbadan tambun itu.

Anak-anak yang lugu itu kemudian membuat rencana untuk balapan.

“Woi, kau nggak bosen main gitu-gitu aja? Balapan yok. Nanti yang menang kukasih uang seribu.” Kata Rifa, kakaknya Lika.

“Ayok, siapa takut?” ujar Anna.

Balapan pun akan dimulai, seperti layaknya balapan motoGP antara Jorge Lorenzo, Marc Marquez, dkk. Bendera start dari daun pisang mulai dikibarkan.

“OK. Kuhitung dari 3 ya, habis itu nanti kalian cepet-cepetan ya.” Kata Lika.

3… 2…

“Ncup dulu Lik. Kakiku gatel”, kata Anna.

“Ya udah, kuulang ya…”, kata Lika.

3… 2… 1… Mulai!

Anna, Rifa, dan Tio mulai memacu sepedanya di trek yang cukup kering. Posisi terdepan sementara diraih oleh Anna. Karena terlalu senang, ia lupa kalau ada turunan yang cukup dalam. Akhirnya ia jungkir balik dari sepedanya. Untunglah dia jatuh di halaman depan rumah Bu Wita yang jalanannya cenderung cekung.

Anna mengalami luka di kakinya. Taruhan pun dibatalkan. Anna menyembunyikan lukanya sendiri dan berusaha berjalan seperti biasa. Tak disangka, waktu Anna tidur, ibunya melihat luka di kaki Anna. Anna yang malang, tidak mahir dalam menyimpan rahasia.

Bulan pun berlalu, saatnya Ramadhan. Anna diajarkan berpuasa oleh ibunya. Saat itu ibu sedang berada di rumah Bu Wita. Anna yang haus kemudian pulang ke rumah dengan mengendap-endap, mengambil gelas sambil jinjit, mengambil air dari dispenser, minum, dan tak lupa mencuci serta mengeringkan gelasnya.

Kemudian ia pergi bersama ibunya dan ibu mulai mengizinkannya untuk minum pada jam 12 siang. Ibu lalu memuji Anna tanpa mengetahui kenakalan anaknya.

Setiap sore hari, ayah Anna selalu mengajar anaknya bak seorang guru. Lengkap dengan buku latihan, papan tulis kecil, spidol, dan penghapus. Satu hal yang paling dibenci Anna yaitu ketika ayahnya melempar penghapus ke papan tulis ketika ia tidak dapat menjawab dengan benar. Kadang-kadang ia diselamatkan oleh dirinya sendiri kalau jawabannya benar.

Kini Anna sudah beranjak remaja, sedikit lebih dewasa, sedikit tertutup, sedikit mentel, dan lumayan gemuk. Anna duduk di kelas 6 SD. Pada saat yang lain, ia mulai jatuh cinta kepada temannya sendiri. Maklum, anak yang mengalami masa pubertas bertingkah laku seperti orang dewasa. Memakai parfum lima kali semprot, membelit hijab kesana kemari, demam girl-boy band, pokoknya parah.