Seperti kumbang pada bunga, begitulah rasa ketertarikanku padanya. Ibarat sungai yang selalu menuju ke laut demikian juga lah hatiku yang selalu mengikuti dan mencarinya. Bak mentari dengan bintang seperti itulah keadaanku dan dia. Tak mungkin bersama, tak mungkin bertemu dan tak mungkin saling memiliki.

Jika aku tau semuanya akan jadi seperti ini maka waktu itu tak akan kubiarkan hatiku mengagumimu. Jika saja aku tau bahwa semua ini akan hanya memberi luka maka saat itu pasti aku menghindari pertemuan denganmu. Andai saja waktu itu aku sadar akan siapa aku dan siapa dirimu maka mungkin semuanya takkan sesakit ini. Seandainya… dan seandainya…

Seminggu lalu terakhir kali aku melihatnya. Tepatnya hari terakhir perkenalan kampus pada mahasiswa baru. Dia adalah kakak pembimbing kelompok kami kelompok O. Waktu itu, tepatnya malam itu, dia terlihat sangat keren dengan setelah kemeja putihnya dan dasi kupu-kupu yang ia kenakan di kerah kemeja itu. Tapi seperti biasa ia begitu sibuk dan selalu bergerak ke sana-kemari. Kuperhatikan langkahnya. Begitu tegap dan pasti. Andai saja langkah itu kau pakai untuk menghampiriku pasti rasanya akan begitu indah … gumamku dalam hati.

Dia memiliki begitu banyak penggemar. Yang selalu mebicarakan tentangnya di sekitarku. Sedang aku entah kenapa sama sekali tak bisa berbicara satu patah kata pun tentang dia. Kenapa..? ya mungkin saja karena aku merasa kurang pantas saja atau entahlah, aku tak tau pasti tapi yang jelas walau aku tak pernah mengatakan apapun tentang dia sebenarnya dalam hati aku selalu mennyebut namanya. Ya hanya dalam hati…

Setelah acara perkenalan kampus itu usai tak pernah lagi ku melihatnya. Dan hal itu sedikit membuatku kecewa juga sedih. Bisa dibilang kalau aku rindu. Hahhh…? rindu?? ya rindu.

Walau bisa saja sih aku melihat foto-fotonya melalui sosmed tapi tetap saja itu tak bisa menghilangkan rasa rindu yang mengganggu itu. Aku hanya ingin melihatnya. Walau hanya dari jauh atau dari lantai tiga kampusku, tak apalah asal aku bisa melihatnya.

Tapi sampai sekarang hampir 3 minggu setelah aku kuliah, harapanku itu tak kunjung terkabulkan. Hingga sore itu aku mengirim pesan padanya melalui facebook. Awalnya aku bingung mau tanya apa tapi akhirnya aku menanyakan tentang kuliahnya, hanya itu.

Dia membalasnya keesokan harinya. Begitu gembira hatiku mendapat balasan darinya. ternyata dia sudah semester 7 bentar lagi wisuda. aku tersenyum.

Kuberi dia kata-kata penyemangat dan kata sanjungan, dia membalasnya dengan emoticon senyum. aku pun ikut tersenyum. ‘kak aku merindukanmu.. sangat rindu. kapan aku bisa melihat senyummu itu lagi? kapan kita bisa bertemu? aku rindu…’ gumamku dalam hati.

Ingin rasanya aku mengirim pesan seperti itu padanya tapi itu tak mungkin. Jika saja aku melakukan itu maka mungkin saja dia akan jadi ilfil padaku.

Aku tak mau dia jadi membenciku. Tak lagi kubalas chatnya itu. Karena sepertinya pembicaraan ini tak perlu lagi diteruskan, dan tak mungkin untuk diteruskan.

Begitu juga dengan perasaanku ini. Cukup sampai di sini saja. Tak usah diteruskan atau dilanjutkan. Karena kini aku tau siapa aku dan siapa dirinya. Kini aku sudah tau posisiku yang sejak awal tak kuketahui.